Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam

 TOP MENU

Sirah Nabi 3 - Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam

RumahSirah

Sirah Nabi 3 – Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam

 Admin025 September 2017 3:46Sirah Nabi 5 – Kondisi Keagamaan Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺKisah Seorang Putri Sholihah yang MenakjubkanSuka Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu… .. !!!

Tatkala Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām membangun Ka’bah bersama putranya Nabi Ismā’īl’ alayhissalām. merekapun berdo’a:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“ Yā Rabb kami, terimalah amalan shalih kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Maha Mengetahui lagi .” (QS Al-Baqarah: 127)

Kemudian Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām bermukim di Mekkah dan memiliki banyak anak. Sebagai seorang Nabi, beliau berdakwah di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Hingga akhirnya tegaklah tauhid di kota Mekkah.

Setelah Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām meninggal dunia, Ka’bah dan kepengurusan Ka’bah dipegang oleh kabilah Jurhum (kabilah dari istrinya) dan tidak dipegang oleh anak-anaknya Ismā’īl ‘alayhissalām. Mereka menguasai Ka’bah dalam waktu yang lama. Orang-orang Arab saat itu mengagungkan Ka’bah berkat dakwah Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām dan Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām serta doa mereka sehingga orang dari pelbagai penjuru jazirah Arab berbondong-bondong mengunjungi Ka’bah. Mereka beribadah mendatangi Ka’bah. Hal ini membuktikan bahwa dakwah tauhid sudah ada sejak zaman Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām dan Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām.

Akan tetapi saat kepengurusan Ka’bah dipegang oleh kabilah Jurhum, seiring berjalannya waktu mulailah terjadi penyimpangan-penyimpangan sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli sejarah. Mereka mulai tidak amanah. Banyak orang yang datang ke Ka’bah membawa hadiah, kemudian memasukkannya ke dalam Ka’bah, tetapi hadiah-hadiah tersebut dicuri oleh kabilah Jurhum. Demikian kondisi mereka.

Saat itu berbagai macam kemaksiatan dan kezhaliman terjadi, sedangkan kesyirikan belum terjadi. Sampai-sampai telah terjadi hal yang sangat parah, yaitu perzinaan di dalam Ka’bah yang dilakukan oleh 2 orang pemuda pemudi yang bernama Isaaf dan Nailah. Mereka datang ke Ka’bah kemudian berzina di dalam Ka’bah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian mengutuk mereka berdua menjadi batu. Lalu patung Isaaf dan Nailah ini salah satunya diletakkan di Bukit Shafa dan satunya diletakkan di Bukit Marwa, di mana saat itu sudah ada syariat sa’i.

Seiring berjalannya waktu, kedua patung ini akhirnya disembah. Subhānallah, sungguh sangat ironi, dan betapa merajalelanya kebodohan saat itu. Dua orang ini dikutuk oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadi patung di dalam Ka’bah namun malah disembah oleh orang Arab jahiliyyah tatkala itu. Demikianlah kezhaliman terus berlangsung di Mekkah karena Ka’bah dan kota Mekkah dikuasai oleh kabilah Jurhum.

Sampai akhirnya datanglah kabilah yang lain dari negeri Yaman yang berhijrah ke kota Mekkah dengan pemimpinnya Tsa’labah bin ‘Amr bin ‘Aamir. Dia meminta izin kepada kabilah Jurhum untuk tinggal bersama mereka di Mekkah. Akan tetapi mereka tidak diizinkan oleh kabilah Jurhum padahal sama-sama dari Yaman.

Tsa’labah tidak terima, dia kemudian mengumpulkan kabilahnya lalu mengadakan peperangan melawan kabilah Jurhum. Akhirnya kabilah Jurhum pun bisa dikalahkan dan kekuasaan saat itu berpindah ke tangan Tsa’labah bin ‘Amr dan para pengikutnya. Tak lama kemudian, Tsa’labah ditimpa penyakit dan pergi berobat ke negeri Syam. Dia menyerahkan kekuasaan kota Mekkah dan kepengurusan Ka’bah kepada keponakannya yang bernama Rabii’ah bin Hāritsah bin ‘Amr, yang kaumnya mengebalnya dengan Khuza’ah. Sehingga setelah kabilah Jurhum menguasai Ka’bah, kekuasaan pun berpindah kepada kabilah yang lain yaitu kabilah Khuza’ah. (lihat As-Siroh An-Nabawiyah fi dhou’ Al-Mashodir Al-Ashliyah hal 62)

Di zaman kabilah Khuza’ah inilah terjadi kesyirikan dahsyat yang dibawa oleh pemimpin mereka yang bernama ‘Amr bin Luhay Al-Khuzā’i. Kabilah Khuza’ah ini menguasai Ka’bah sekitar 300 tahun -atau sampai 500 tahun menurut sebagian sejarawan-.

Dimanakah anak keturunannya Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām pada saat itu? Anak keturunan Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām adalah orang-orang (suku) Quraisy. Saat peperangan pecah di antara kabilah-kabilah dalam memperebutkan Ka’bah, anak keturunan Ismā’īl ‘alayhissalām menjauh dan tidak mengikuti peperangan. Di masa pemerintahan Khuza’ah menguasai Ka’bah, muncul seorang diantara mereka yang bernama Qushay bin Kilāb yang merupakan kakek moyang Nabi Muhammad ﷺ.

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1439 H / 25-09-2017 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.comSirah 31

RECOMMENDED FOR YOU

Sirah Nabi 5 - Kondisi Keagamaan Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ

Sirah Nabi 5 – Kondisi Keagamaan Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ

Sirah Nabi 15 – Wafatnya Ibunda Nabi Muhammad dan Diasuhnya Beliau Oleh Kakek dan Pamannya

Sirah Nabi 15 – Wafatnya Ibunda Nabi Muhammad dan Diasuhnya Beliau Oleh Kakek dan Pamannya

Sirah Nabi 8 – Kondisi Luar Jazirah Arab Sebelum Islam (Persia & Romawi)

Sirah Nabi 8 – Kondisi Luar Jazirah Arab Sebelum Islam (Persia & Romawi)

Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan

Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan

Newer PostSirah Nabi 4 – Garis Nasab Nabi Muhammad ﷺOlder PostSirah Nabi 2 – Sirah Nabi ﷺ Adalah Mukjizat

 COMMENTS

WORDPRESS: 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment

Name *

Email *Dapatkan update artikel dengan berlangganan disini

VIDEO

TERBARU

1.

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

2.

Sirah Nabi 17 – Pernikahan Nabi ﷺ dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘anha

3.

Sirah Nabi 16 – Peristiwa Halful Fudhul Sebelum Muhammad ﷺ Diutus Menjadi Nabi

4.

Sirah Nabi 15 – Wafatnya Ibunda Nabi Muhammad dan Diasuhnya Beliau Oleh Kakek dan Pamannya

5.

Khotbah Jum’at Masjid Nabawi – Lidah Pangkal Kebaikan Sekaligus Sarang Keburukan

masuk surga tanpa hisab - ustadz firanda

Hasad itu biasanya karena kurang kenal, maka lawan hasad Anda dengan mengenalnya, ngobrol dengannya, memuji kebaikannya, kalau bisa memberi hadiah kepadanya. Niscaya Anda telah berhasil mengalahkan Iblis…- Firanda Andirja

POPULER

Penjelasan Kitab Tauhid – شَرْحُ كِتَابِ التَّوْحِيْدِ – BAB 1

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid – شَرْحُ كِتَابِ التَّوْحِيْدِ – BAB 1

Read More

Sirah Nabi 17 – Pernikahan Nabi ﷺ dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘anha

SIRAH

Sirah Nabi 17 – Pernikahan Nabi ﷺ dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘anha

Read More

Tanggapan Tentang Pembakaran Bendera Bertuliskan Tauhid (Video)

NASIHAT

Tanggapan Tentang Pembakaran Bendera Bertuliskan Tauhid (Video)

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid – شَرْحُ كِتَابِ التَّوْحِيْدِ – KATA PENGANTAR

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid – شَرْحُ كِتَابِ التَّوْحِيْدِ – KATA PENGANTAR

Read More

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

KAJIAN

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 3 – Memurnikan Tauhid Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 3 – Memurnikan Tauhid Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

Read More

Komentar Pembaca

ARTIKEL PILIHAN

Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan

VIDEO

Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan

Saudi Negeri Wahhabi

VIDEO

Saudi Negeri Wahhabi

Kajian Siroh Bagian 7 (2/2) : Faedah Disusuinya Nabi Diperkampungan

VIDEO

Kajian Siroh Bagian 7 (2/2) : Faedah Disusuinya Nabi Diperkampungan

Kajian Siroh Bagian 7 (1/2) : Kisah Ketika Nabi

VIDEO

Kajian Siroh Bagian 7 (1/2) : Kisah Ketika Nabi

RECENT WITH THUMB

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 2 – Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkannya

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 2 – Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkannya

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 4 – TAKUT KEPADA SYIRIK

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 4 – TAKUT KEPADA SYIRIK

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 5 – DAKWAH KEPADA SYAHADAT LA ILAHA ILLALLAH

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 5 – DAKWAH KEPADA SYAHADAT LA ILAHA ILLALLAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 12 – Termasuk Kesyirikan Bernadzar untuk Selain Allah

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 12 – adalah Kesyirikan Bernadzar untuk Selain Allah

Site Logo

Tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridlo Ilahi

Dapatkan pembaruan artikel dengan kredit di sini

© 2018 Firanda.com. Seluruh hak cipta. Dukung Yufid.com

Sirah Nabi ﷺ Adalah Mukjizat

 TOP MENU

Sirah Nabi 2 – Sirah Nabi ﷺ Adalah Mukjizat

HomeSirah

Sirah Nabi 2 – Sirah Nabi ﷺ Adalah Mukjizat

 Admin 0September 22, 2017 4:09 amSirah Nabi 8 – Kondisi Luar Jazirah Arab Sebelum Islam (Persia & Romawi)Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!MANAKAH YANG LEBIH MENAKJUBKAN ???

Imām Ibnu Hazm rahimahullāh dalam buku beliau yang berjudul al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal , beliau berkata :

فَإِن سيرة مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لمن تدبرها تَقْتَضِي تَصْدِيقه ضَرُورَة وَتشهد لَهُ بِأَنَّهُ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم حَقًا فَلَو لم تكن لَهُ معْجزَة غير سيرته صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لكفى

“Sesungguhnya sirah (perjalanan hidup) Muhammad ﷺ bagi siapa yang menelaah dan menghayatinya, akan mengharuskannya untuk membenarkan Nabi dan bersaksi bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah. Seandainya tidak ada mukjizat Nabi selain sirah beliau maka itu sudah cukup” (al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal 2/73)

Beliau menjelaskan bahwa “Barangsiapa yang membaca sirah Nabi ﷺ dari awal sampai akhir (bagaimana akhlaq dan sikap Beliau) dengan penuh penghayatan, maka dia akan masuk Islam.”

Bahkan Imam Ibnu Hazm sampai-sampai menegaskan : “Kalau seandainya mukjizat Nabi ﷺ tidak ada kecuali hanya sirahnya saja, maka itu sudah cukup.” Karenanya sirah Nabi Muhammad ﷺ sejatinya adalah mukjizat tersendiri. Kita tahu Nabi ﷺ dianugerahi banyak mukjizat; seperti Isrā Mi’rāj, air yang keluar dari tangan beliau, berkah beliau meludahi orang yang sakit kemudian sembuh (sebagaimana ‘Ali bin Abi Thālib yang matanya sakit kemudian diludahi oleh Nabi ﷺ lalu sembuh) dan mukjizat abadi dan terbesar, yaitu Al-Qurān. Namun di antara sekian banyak mukjizat tersebut menurut Ibnu Hazm rahimahullāh, sirah Nabi itu adalah mukjizat tersendiri. Barangsiapa yang mempelajari sirah Nabi maka dia akan mendapatkan kejaiban, bagaimana perangai dan akhlak Nabi ﷺ yang sangat luar biasa.

Apabila berbicara tentang tokoh-tokoh yang lain, mungkin saja tokoh ini memiliki keunggulan dalam suatu bidang tertentu, tetapi berbeda denga Nabi ﷺ yang hebat dalam segala hal. Jika berbicara tentang kepememimpinan, maka Nabi ﷺ adalah sosok pemimpin yang hebat. Berbicara tentang keberanian maka Nabi ﷺ adalah sosok yang paling pemberani, sampai-sampai ‘Ali bin Abi Thālib berkata:

كُنَّا إِذَا احْمَرَّ الْبَأْسُ، وَلَقِيَ الْقَوْمُ الْقَوْمَ، اتَّقَيْنَا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا يَكُونُ مِنَّا أَحَدٌ أَدْنَى مِنَ القَوْمِ مِنْهُ

“Kami jika dalam kondisi serangan musuh yang sangat kuat, kaum muslimin telah bertemu dengan musuh, maka kamipun berlindung di belakang Nabi ﷺ, tidak seorangpun dari kami yang lebih dekat kepada musuh dari pada Nabi ﷺ ” (HR Ahmad no 1347 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan juga dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

Perhatikanlah, pengakuan ini bukanlah diucapkan oleh sembarang orang, akan tetapi diucapkan oleh Ali bin Abi Thālib yang dikenal sangat pemberani. Itupun beliau berlindung di belakang Nabi  ﷺ.

Di dalam perang Hunain, suatu ketika saat para shāhabat diserang musuh, tiba-tiba Nabi ﷺ langsung menyeruak maju ke depan. Dalam hal keberanian, Nabi ﷺ tidak ada duanya. Belum lagi akhlak dan perangai beliau. Apabila Anda ingin mencari siapa sosok teladan ayah terbaik di muka bumi ini, maka Nabi ﷺ adalah ayah terbaik. Apabila Anda ingin mencari siapa sosok suami terbaik, maka lihatlah perikehidupan Nabi sebagai sosok suami terbaik. Keadaan beliau ﷺ sungguh sangat menakjubkan. Dalam segala hal, baik sebagai seorang ayah, suami, kepala negara, mufti, teman dan selainnya, maka Nabi ﷺ adalah pribadi yang menakjubkan, kesemuanya adalah mukjizat.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ ini bukanlah sembarang tokoh. Beliau adalah tokoh dan figur yang sangat luar biasa istimewa dan spesial. Pribadi yang sangat diagungkan dan dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Nabi ﷺ pernah bersabda :

 أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا فَخْرَ

Aku adalah pemimpin seluruh anak Ādam pada hari kiamat dan aku tidak sombong.” (HR At-Tirmidzi no 3148 dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri dan syahidnya HR Muslim no 2278 dari Abu Hurairah)

Inilah tokoh yang sangat mulia, Rasūlullāh Muhammad bin Abdillah ﷺ.

Maka alangkah benarnya perkataan Ibnu Hazm di atas, “Barangsiapa yang mempelajari sirah Nabi maka dia akan memeluk Islam, karena jika ia mempelajari dengan sebaik-baiknya maka dia pasti yakin bahwa Muhammad adalah Rasūlullāh (utusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla).”

Ada satu contoh yang mungkin menurut kita suatu hal yang sepele dan remeh, yaitu tentang adab dan etika makan Nabi ﷺ sebagaimana disebutkan oleh shāhabat:

إِن اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Jika beliau suka dengan suatu makanan maka beliau makan, dan sebaliknya apabila beliau tidak suka dengan suatu makanan, maka beliau biarkan (tidak dikomentari)”

Adab Nabi ﷺ terhadap makanan ini memang tampak sepele dan remeh. Beliau ﷺ apabila di hadapannya ada makanan, jika suka  beliau makan dan jika tidak suka beliau tinggalkan, tidak pernah beliau berkomentar atau mengeluhkannya. Al-Imām Nawawi rahimahullāh Ta’āla mengatakan:

“Yaitu, Rasūlullāh ﷺ tidak pernah mencela makanan. Dalam sebuah hadits disebutkan :

مَا عَابَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Rasūlullāh ﷺ tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Apabila beliau suka, beliau makan dan apabila beliau tidak suka, beliau tinggalkan.” (HR Muslim no 2064)

Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Imām Nawawi dalam Syarh Shahīh Muslim menerangkan bahwa Nabi tidak pernah mengomentari makanan dengan mengatakan: “ini terlalu manis” atau “ini terlalu asin” atau “ini kurang enak” atau “ini terlalu panas” atau “ini terlalu dingin”.

Siapakah gerangan diantara kita yang bisa seperti ini? Yaitu tidak pernah mengomentari makanan. Kita umumnya senang mengomentari makanan. Bisakah kita diam dan tidak berkomentar tentang makanan dalam waktu sebulan saja? Jangankan makanan yang kita beli, makanan yang gratis pun terkadang kita komentari, terlebih lagi makanan yang kita beli dan dengan harga mahal. Namun Nabi ﷺ tidak pernah mengomentari makanan, bahkan walaupun beliau terjebak dalam kondisi yang seharusnya beliau bisa berkomentar. Sebagaimana dalam hadits ketika Khālid bin al-Walid radhiyallāhu ‘anhu suatu ketika sedang bersama Nabi dan dihidangkan seekor dhabb(kadal padang pasir) yang dimasak dengan kuahnya. Khālid bin Walid makan dengan lahapnya, sampai-sampai disebutkan kuah dari daging dhabb tersebut mengalir di jenggot beliau.

Hukum dhabb (kadal padang pasir) ini halal. Namun Nabi ﷺ tidak menggerakkan tangannya sama sekali karena beliau memang tidak suka, sehingga beliau tinggalkan. Hal ini menyebabkan  Khālid bin al-Walid heran, sementara beliau begitu lahap memakannya.  Lantas beliau bertanya:

أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

“Ya Rasūlullāh, apakah dhabb hukumnya haram?”,

yaitu seakan-akan beliau beliau bertanya : “Kenapa Anda tidak memakannya?”

Apabila kita dalam posisi sebagai Nabi, mungkin kita akan mengatakan: “Saya ini Nabi, tidak sepatutnya dihidangkan kadal, seharusnya minimal sapi atau kambing atau unta.”

Tetapi Nabi ﷺ tidak demikian. Ketika beliau dihidangkan kadal dan beliau tidak menyukainya, maka beliau menjawab dengan komentar yang indah dan sedikitpun tidak mencela makanan tersebut. Beliau mengatakan:

لَا، وَ لكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِاَرْضِ قَوْمِي فَاَجِدُنِي اَعَافُهُ

“Tidak, hanya saja makanan ini tidak ada di kampungku. Saya tidak biasa memakannya karena itu tidak saya makan.” (HR Al-Bukhari no 5391 dan Muslim no 1945)

Beliau tidak berkata macam-macam dan mencela makanan tersebut.  Jika kita perhatikan perangai beliau yang tampak remeh ini, sebenarnya ini termasuk mukjizat. Apakah ada orang yang tidak pernah mengomentari dan mencela makanan? Hampir mustahil ada orang seperti ini.

Siapa saja yang mau memperhatikan hadits-hadits Nabi ﷺ, niscaya dia akan mengetahui bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah Nabi dan utusan Allāh. Ini hanya salah satu contoh kecil. Tidak pernah seumur hidupnya beliau mencela makanan, mengomentari, “Ini terlalu manis”, “Ini terlalu asam”, “Ini terlalu asin”, atau “Ini terlalu kering”. Hal ini merupakan perkara yang luar biasa.

Ini menunjukkan bahwa orang yang memperhatikan satu poin ini saja, yang tampaknya sederhana dan remeh, bisa menjadikannya yakin bahwasanya Muhammad bin Abdillah itu memang utusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan alangkah benarnya perkataan Ibnu Hazm rahimahullāh di atas : “Barangsiapa yang memperhatikan sirah Nabi ﷺ yang merupakan mukjizat tersendiri maka pasti dia yakin bahwasanya Muhammad adalah utusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 02-01-1439 H / 22-09-2017 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.comSirah 31

RECOMMENDED FOR YOU

Sirah Nabi 11 – ‘Abdullah dan Aminah, Orang Tua Nabi ﷺ

Sirah Nabi 11 – ‘Abdullah dan Aminah, Orang Tua Nabi ﷺ

BIOGRAFI AL-IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH

BIOGRAFI AL-IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH

Sirah Nabi 7 – Sebagian Sifat Baik Bangsa Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ

Sirah Nabi 7 – Sebagian Sifat Baik Bangsa Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!

Newer PostSirah Nabi 3 – Kondisi Jazirah Arab Sebelum IslamOlder PostSirah Nabi 1 : Mempelajari Sirah Nabi ﷺ Merupakan Bagian dari Agama

 COMMENTS

WORDPRESS: 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment

Name *

Email *Dapatkan update artikel dengan berlangganan disini

VIDEO

TERBARU

1.

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

2.

Sirah Nabi 17 – Pernikahan Nabi ﷺ dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘anha

3.

Sirah Nabi 16 – Peristiwa Halful Fudhul Sebelum Muhammad ﷺ Diutus Menjadi Nabi

4.

Sirah Nabi 15 – Wafatnya Ibunda Nabi Muhammad dan Diasuhnya Beliau Oleh Kakek dan Pamannya

5.

Khotbah Jum’at Masjid Nabawi – Lidah Pangkal Kebaikan Sekaligus Sarang Keburukan

masuk surga tanpa hisab - ustadz firanda

Hasad itu biasanya karena kurang kenal, maka lawan hasad Anda dengan mengenalnya, ngobrol dengannya, memuji kebaikannya, kalau bisa memberi hadiah kepadanya. Niscaya Anda telah berhasil mengalahkan Iblis…- Firanda Andirja

POPULER

Sirah Nabi 16 – Peristiwa Halful Fudhul Sebelum Muhammad ﷺ Diutus Menjadi Nabi

SIRAH

Sirah Nabi 16 – Peristiwa Halful Fudhul Sebelum Muhammad ﷺ Diutus Menjadi Nabi

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 6 – MAKNA TAUHID DAN SYAHADAT LA ILAHA ILLALLAH

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 6 – MAKNA TAUHID DAN SYAHADAT LA ILAHA ILLALLAH

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 8 – Tentang Ruqyah dan Tamimah

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 8 – Tentang Ruqyah dan Tamimah

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 10 – Menyembelih  untuk Selain Allah

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 10 – Menyembelih untuk Selain Allah

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 4 – TAKUT KEPADA SYIRIK

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 4 – TAKUT KEPADA SYIRIK

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 2 – Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkannya

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 2 – Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkannya

Read More

Komentar Pembaca

ARTIKEL PILIHAN

Tanggapan Tentang Pembakaran Bendera Bertuliskan Tauhid (Video)

NASIHAT

Tanggapan Tentang Pembakaran Bendera Bertuliskan Tauhid (Video)

Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan

VIDEO

Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan

Saudi Negeri Wahhabi

VIDEO

Saudi Negeri Wahhabi

Kajian Siroh Bagian 7 (2/2) : Faedah Disusuinya Nabi Diperkampungan

VIDEO

Kajian Siroh Bagian 7 (2/2) : Faedah Disusuinya Nabi Diperkampungan

RECENT WITH THUMB

Penjelasan Kitab Tauhid – شَرْحُ كِتَابِ التَّوْحِيْدِ – KATA PENGANTAR

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid – شَرْحُ كِتَابِ التَّوْحِيْدِ – KATA PENGANTAR

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 9 – Tabarruk Kepada Pohon, Bebatuan dll

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 9 – Tabarruk Kepada Pohon, Bebatuan dll

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 11 – Larangan Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 11 – Larangan Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah

Menyambung Kembali Yang Telah Putus….Memilin Kembali Yang Telah Terurai

LAIN-LAIN

Menyambung Kembali Yang Telah Putus….Memilin Kembali Yang Telah Terurai

Site Logo

Tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridlo Ilahi

Dapatkan update artikel dengan berlangganan disini

© 2018 Firanda.com. All rights reserved. Support Yufid.com

Mempelajari Sirah Nabi ﷺ Merupakan Bagian dari Agama

 TOP MENU

Sirah Nabi 1 : Mempelajari Sirah Nabi ﷺ Merupakan Bagian dari Agama

HomeSirah

Sirah Nabi 1 : Mempelajari Sirah Nabi ﷺ Merupakan Bagian dari Agama

 Admin 1September 19, 2017 7:47 amHARUSKAH MEMBENCI IBNU TAIMIYYAH?? (Padahal Ibnu Hajar Al-Asqolaani dan para ulama syafi’iyah terkmuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit)Kajian Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah

Sesungguhnya mempelajari sirah Nabi ﷺ merupakan bagian dari agama ini. Karenanya salaf terdahulu, mereka memiliki ihtimām (perhatian besar) di dalam mempelajari sirah Nabi ﷺ. Dan banyak nukilan-nukilan dari mereka yang menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap sejarah Nabi ﷺ.

Seperti yang dinukilkan dari ‘Ali bin al-Husain (anak dari Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thālib) yang dikenal dengan sebutan Zaynal ‘Abidīn. Beliau pernah berkata:

 كُنَّا نُعَلَّمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَرَايَاهُ كَمَا نُعَلَّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Kami dahulu diajari tentang sejarah peperangan Nabi ﷺ baik yang Nabi ikut serta maupun tidak sebagaimana kami diajari tentang surat Al-Qurān.” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’  2/195)

Ini menunjukkan bahwa para salaf terdahulu benar-benar menaruh perhatian terhadap sejarah Nabi ﷺ, termasuk peperangan-peperangan Nabi ﷺ, sebagaimana dahulu mereka mengajarkan tentang surat-surat dalam Al-Qurān.

Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Al-Imām Az-Zuhriy rahimahullāh Ta’āla, beliau berkata :

فِي عِلْمِ الْمَغَازِي عِلْمُ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا

“Dalam ilmu sejarah Nabi ﷺ ada ilmu akhirat dan ilmu dunia.” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’  2/195)

Demikian juga perkataan Ibnul Jauzi rahimahullāh yang menunjukkan perhatian kepada Sirah Nabi ﷺ, beliau berkata:

رَأَيْتُ الاِشْتِغَالَ بِالْفِقْهِ وَسَمَاعِ الْحَدِيْثِ لاَ يَكَادُ يَكْفِي فِي صَلاَحِ الْقَلْبِ، إِلاَّ أَنْ يُمْزَجَ بِالرَّقَائِقِ وَالنَّظْرِ فِي سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ.

“Aku memandang bahwa hanya sibuk mempelajari fiqh dan hanya sibuk mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ (yaitu yang berkaitan dengan fiqh) tidak cukup untuk memperbaiki hati kecuali apabila digabungkan dengan mempelajari raqāiq (yang dapat melembutkan hati) dan juga mempelajari sejarah para salafush shālih.” (Shaidul Khathir hal. 228)

Beliau juga berkata :

وَأَصْلُ الأُصُوْلِ الْعِلْمُ، وَأَنْفَعُ الْعُلُوْمِ النَّظَرُ فِي سِيَرِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ: {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ}

“Pokok dari perkara-perkara yang pokok adalah ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah memperhatikan sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka ikutilah petunjuk mereka” (QS Al-An’aam : 90)” (Shaidul Khathir hal. 80)

Perhatikan perkataan yang indah dari Ibnul Jauziy rahimahullāh Ta’āla ini. Beliau mengatakan bahwasanya meskipun kita butuh mempelajari ilmu fiqh dan hadits-hadits Nabi ﷺ untuk mempelajari bagian dari agama ini, tetapi hal ini tidak cukup untuk membersihkan dan meluruskan hati. Seseorang butuh untuk mempelajari ar-raqāiq, mengkhususkan waktu untuk mempelajari zuhud dan perkara yang berkaitan dengan akhiratnya. Sehingga dia semakin yakin bahwa dunia ini akan sirna. Dirinya akan disidang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dia akan dihadapkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan maut pun akan menjemputnya.

Oleh karena itu, hendaknya seseorang mempelajari sirah (perjalanan hidup) orang-orang terdahulu. Sebab ketika ia mempelajari sirah perjalanan orang-orang terdahulu termasuk bagaimana ibadah mereka, maka hal ini akan meluruskan hatinya, apalagi jika yang dipelajari adalah sirah Nabi ﷺ.

Selain itu, pada kenyataannya seseorang tidak akan bisa menguasai ilmu fikih dengan baik dan sempurna jika ia kurang menguasai sirah Nabi, karena banyaknya hukum-hukum yang berkaitan dengan sirah dan peperangan-peperangan Nabi. Dengan mengetahui alur sejarah perjalanan Nabi, hal tersebut akan lebih memudahkan untuk memahami fikih Nabi dan juga tentang asbabun nuzul ayat dan asbabun wurud hadits yang lebih membantu memahami fikih ayat dan hadits tersebut.

Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata :

تَتَعَلَّقُ بِمَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْكَامٌ كَثِيرَةٌ فَيَجِبُ كَتْبُهَا وَالْحِفْظُ لَهَا

“Banyak hukum yang berkaitan dengan peperangan-peperangan Nabi ﷺ, wajib untuk mencatat peperangan-peperangan tersebut dan menjaganya” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’  2/195)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, bahwa beliau memiliki waktu khusus untuk mengajarkan sirah, padahal beliau adalah shāhabat yang merupakan ahli tafsir (mufassir) dan orang yang ‘alim di kalangan shāhabat. Akan tetapi, beliau mengkhususkan waktu untuk mengajarkan sirah Nabi ﷺ, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Ubaidillāh bin ‘Utbah ketika menyifati majelis Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, beliau mengatakan:

وَلَقَدْ كُنَّا نَحْضُرُ عِنْدَهُ فَيُحَدِّثُنَا الْعَشِيَّةَ كُلَّهَا فِي الْمَغَازِي

“Kami menghadiri majelis Ibnu ‘Abbas pada suatu sore dan seluruh waktu beliau habiskan untuk mengajarkan tentang sirah Nabi ﷺ (tentang peperangan Nabi ﷺ).” (Maghazi Rasulillah ﷺ li Urwah bin Az-Zubair hal. 23)

Dengan kata lain, Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā membuat pengajian khusus tentang sirah Nabi ﷺ.

Karena itulah, mempelajari sirah Nabi ﷺ adalah perkara yang penting dan termasuk bagian dari agama.

Apabila kita perhatikan, sirah Nabi ﷺ adalah sirah yang istimewa. Kita sedang mempelajari seorang tokoh yang tidak sama dengan tokoh yang lain. Terdapat sebuah buku yang berjudul “100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah” [The 100, A Ranking to The Most Influential People in History karya Michael H. Hart, ed]. Dalam buku ini disebutkan. Ada 100 tokoh yang dianggap paling berpengaruh di dunia, termasuk yang disebutkan adalah Hitler [Urutan No ke-39]. Penulis buku tersebut, menjadikan Nabi ﷺ sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh. Selain beliau ada Budha [Sidharta Gautama, urutan ke-4], Kong Hu Cu [Urutan ke-5] dan yang lainnya.

Meskipun Michael H. Hart menjadikan Nabi ﷺ sebagai tokoh nomor 1 paling berpengaruh di dunia, akan tetapi membandingkan sejarah Nabi dengan sejarah orang-orang ini adalah tidak pantas. Mengapa demikian? Karena Nabi ﷺ adalah manusia yang berbeda dengan manusia lainnya. Beliau adalah manusia yang sangat mulia, manusia yang paling dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Beliau telah mencapai suatu kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh makhluk selain beliau. Diantaranya ketika bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla (saat isrā mi’rāj), lalu naik (mi’raj) ke tempat yang sangat tinggi (sidratul muntaha) untuk bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla (dan beliau nyaris bertemu langsung dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Sampai-sampai sahabat Abu Ad-Darda’ radhiallahu ‘anhu bertanya kepada beliau:

هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ؟

“Apakah engkau melihat Rabb-mu azza wa jalla?”

Nabi ﷺ berkata:

نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

“Ada cahaya, bagaimana saya bisa melihat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” (HR Muslim no 178)

Artinya beliau berada di tempat yang sangat dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang mana tidak pernah ada yang sampai ke tempat tersebut. Bahkan menurut para ulama, Jibrīl sekalipun belum pernah sampai ke tempat tersebut, melainkan hanya Nabi ﷺ saja.

Selain itu, Nabi ﷺ adalah sosok manusia yang pernah melihat langsung surga dan neraka. Dalam sejumlah hadits, Rasūlullāh ﷺ diperlihatkan surga dan neraka oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Nabi pernah melihat surga bukan dengan pandangan hati akan tetapi dengan melihatnya secara langsung, dan Allāh sendirilah yang memperlihatkannya. Tentu saja seseorang yang pernah melihat surga dan neraka secara langsung akan tertanam pada dirinya keimanan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, sejarah Nabi bukanlah layaknya sejarah tokoh biasa. Namun beliau hanya pantas disandingkan dengan para Nabi yang lain. Tidak layak dibandingkan dengan Hitler, Buddha, Kong Hu Cu atau tokoh-tokoh lainnya.

Selain itu, tokoh-tokoh tersebut meskipun memiliki pengaruh dan sejarah, akan tetapi sejarah mereka hanyalah dinilai hebat dalam sebagian sisi kehidupan saja, dan itupun tidak sempurna. Berbeda dengan sejarah Nabi ﷺ yang menurut para ulama, sejarah beliaulah satu-satunya yang sempurna dari seluruh sisi dan aspek kehidupan.

Demikian juga, sejarah Nabi ﷺ adalah sejarah paling lengkap yang pernah ada dibandingkan tokoh-tokoh tersebut. Sejarah Nabi ﷺ dihimpun mulai dari masa kecil, kemudian masa muda beliau sebelum diangkat menjadi Nabi, hingga diutus menjadi Nabi, bahkan hingga beliau ﷺ meninggal dunia. Sungguh, betapa langka sejarah yang ditulis secara lengkap seperti ini dengan bukti dan kesaksian otentik yang dapat dibuktikan secara sanad.

Sejarah hidup beliau sarat dengan pelajaran dari segala sisi. Mulai dari semenjak beliau masih anak-anak, sebelum diangkat menjadi Nabi, lalu dari sisi figur sebagai seorang kepala keluarga, seorang ayah, seorang teman, seorang pemimpin (kepala negara), dan lain-lain yang kesemuanya mengandung pelajaran yang bisa dipetik. Bahkan di saat beliau berperang dan bermuamalah baik dengan sesama muslim, non muslim, ataupun terhadap musuh dalam perang, semuanya lengkap terdokumentasi dalam sejarah Nabi ﷺ. Hal Ini tidak akan bisa didapatkan dalam sejarah tokoh-tokoh lain. Bahkan sekalipun tentang para Nabi (selain beliau), tidak akan dijumpai secara lengkap sejarah mereka.

Misalnya, tentang Nabi ‘Isa ‘alayhis salām, apabila kita ingin mencari informasi bagaimana sosok beliau sebagai seorang ayah, maka tidak akan kita dapati keterangan yang valid dalam sejarah beliau. Bahkan di dalam kitab yang dianggap suci oleh orang nasrani sekalipun, yaitu Kitab Injil, tidak akan kita dapati bagaimana sosok Nabi ‘Isa sebagai seorang ayah. Demikian pula jika kita ingin mencontoh Nabi ‘Isa sebagai seorang suami, tidak akan kita dapati informasinya di dalam buku-buku yang dianggap suci oleh mereka.

Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa sejarah Nabi ﷺ adalah sejarah yang sangat spesial dan istimewa, berbeda dengan sejarah tokoh-tokoh lain, karena sejarah beliau begitu lengkap dan terperinci dari segala lini kehidupan. Dan di setiap lini kehidupan Nabi ﷺ tersebut membuahkan keteladanan yang sangat luar biasa, baik beliau sebagai seorang ayah, suami, teman, kepala negara, da’i, ataupun mufti (pemberi fatwa), semuanya ada dan dicontohkan oleh Rasūlullāh ﷺ dalam sejarah beliau.

Pantas kiranya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berada di atas perangai yang mulia.” (QS Al-Qalam 4)

Perhatikanlah bahwa yang memuji Nabi ﷺ bukanlah manusia, namun yang memuji beliau ﷺ langsung adalah Rabbul ‘ālamīn, Pencipta alam semesta ini. Dan pujian Allah tersebut diabadikan dalam Al-Qurān yang dihafalkan oleh jutaan kaum Muslimin.

Dalam ayat di atas, terdapat banyak penekanan yang Allāh berikan dengan menggunakan huruf taukîd(huruf yang didatangkan untuk penekanan makna) yang menunjukkan sungguh-sungguh, yaitu :

⑴ wa innakasesungguhnya engkau

⑵ la’alāsungguh-sungguh / benar-benar berada di atas perangai yang mulia

Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang kehidupannya dijadikan sumpah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kecuali Nabi ﷺ. Sebagaimana sumpah Allah dalam surat Al-Hijr, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Demi Umurmu (wahai Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS. Al-Hijr : 72)

Dalam ayat di atas, Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebenarnya sedang menceritakan tentang kisah kaum Nabi Luth ‘alayhissalām yang terjerumus dalam praktek homoseksual, kemudian Nabi Luth menasehati mereka agar mereka meninggalkannya, namun mereka menolak nasehat tersebut. Nabi Luth mengatakan: Kalau kalian ingin menikah, maka

هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ

Inilah putri-putriku jika kalian hendak berbuat (secara halal).” (QS al-Hijr : 71)

Luth mengatakan : “Janganlah kalian mendatangi para lelaki, maka nikahilah putri-putriku.” Tetapi mereka menolaknya. Kemudian di ayat setelahnya, Allah berfirman :

لَعَمْرُكَ …

“Demi umurmu (atau demi kehidupanmu) (wahai Muhammad)… “

Para ulama menerangkan boleh dibaca “la’umruka” atau “la’amruka“, keduanya sama maknanya. Akan tetapi, dalam sumpah biasanya diucapkan dengan memfathahkan ‘ain (la’amruka) yang artinya “demi kehidupanmu”. Namun bisa pula diucapkan dengan mendhammahkan ‘ain (la’umruka) yang berarti “demi umurmu”.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu menafsirkan : “Demi kehidupanmu wahai Muhammad, sesungguhnya mereka (kaum Nabi Lūth) benar-benar buta dalam kemaksiatan mereka”. Setelah dinasihati oleh Nabi Lūth sampai-sampai beliau menawarkan anak-anak wanitanya, namun mereka menolaknya dan tidak berminat.

Menurut para ulama, dalam ayat di atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak bersumpah dengan kehidupan atau umur Nabi Lūth, padahal ayat ini mengisahkan tentang Nabi Lūth ‘alaihis salam dan kaumnya. Namun Allāh bersumpah dengan kehidupan atau umur Nabi Muhammad ﷺ. Mengapa demikian? Hal ini karena Allāh tidak pernah bersumpah dengan umur seseorang kecuali dengan umur Nabi Muhammad ﷺ.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata :

مَا خَلَقَ اللَّهُ وَمَا ذَرَأَ وَمَا بَرَأَ نَفْسًا أَكْرَمَ عَلَيْهِ مِنْ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا سَمِعْتُ اللَّهَ أَقْسَمَ بِحَيَاةِ أَحَدٍ غَيْرِهِ

“Allah tidak pernah menciptakan dan tidak pernah menghidupkan satu jiwapun yang lebih mulia dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku tidak pernah mendengar Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain kehidupan beliau ﷺ ” (Tafsir Ibnu Katsir 4/542)

Mengapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla bersumpah dengan umur Nabi Muhammad ﷺ? Karena seluruh bagian dari umur Nabi ﷺ adalah kehidupan yang penuh berkah. Hal ini menekankan kepada kita bahwa sejarah Nabi ﷺ itu sangat spesial, tidak sama dengan sejarah-sejarah yang lainnya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

أَقْسَمَ تَعَالَى بِحَيَاةِ نَبِيِّهِ، صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَفِي هَذَا تَشْرِيفٌ عَظِيمٌ، وَمَقَامٌ رَفِيعٌ وَجَاهٌ عَرِيضٌ

“Allah Ta’āla bersumpah dengan kehidupan Nabi-Nya ﷺ, dan ini menunjukkan akan pemuliaan yang agung, kedudukan beliau yang tinggi, dan martabat beliau yang besar kemuliaannya” (Tafsir Ibnu Katsir 4/542)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 28-12-1438 H / 19-09-2017 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.comSirah 319210

RECOMMENDED FOR YOU

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN

HARUSKAH MEMBENCI IBNU TAIMIYYAH?? (Padahal Ibnu Hajar Al-Asqolaani dan para ulama syafi’iyah terkmuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit)

HARUSKAH MEMBENCI IBNU TAIMIYYAH?? (Padahal Ibnu Hajar Al-Asqolaani dan para ulama syafi’iyah terkmuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit)

Sirah Nabi 13 – Persusuan Nabi ﷺ

Sirah Nabi 13 – Persusuan Nabi ﷺ

Mendulang Faedah dari Kisah Nabi Sulaiman

Newer PostSirah Nabi 2 – Sirah Nabi ﷺ Adalah MukjizatOlder PostIkhlas Beribadah karena Allah Sesuai Tuntunan Nabi

 COMMENTS

WORDPRESS: 1

comment-avatar

Abu Ghina4 weeks ago

Assalamualaikum. Ijin share ustadz. Jazakallahu khairan wa barakallahufiik…REPLY 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment

Name *

Email *Dapatkan update artikel dengan berlangganan disini

VIDEO

TERBARU

1.

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

2.

Sirah Nabi 17 – Pernikahan Nabi ﷺ dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘anha

3.

Sirah Nabi 16 – Peristiwa Halful Fudhul Sebelum Muhammad ﷺ Diutus Menjadi Nabi

4.

Sirah Nabi 15 – Wafatnya Ibunda Nabi Muhammad dan Diasuhnya Beliau Oleh Kakek dan Pamannya

5.

Khotbah Jum’at Masjid Nabawi – Lidah Pangkal Kebaikan Sekaligus Sarang Keburukan

masuk surga tanpa hisab - ustadz firanda

Hasad itu biasanya karena kurang kenal, maka lawan hasad Anda dengan mengenalnya, ngobrol dengannya, memuji kebaikannya, kalau bisa memberi hadiah kepadanya. Niscaya Anda telah berhasil mengalahkan Iblis…- Firanda Andirja

POPULER

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 2 – Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkannya

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 2 – Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkannya

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 6 – MAKNA TAUHID DAN SYAHADAT LA ILAHA ILLALLAH

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 6 – MAKNA TAUHID DAN SYAHADAT LA ILAHA ILLALLAH

Read More

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

KAJIAN

Sirah Nabi 18 – Mengapa Nabi ﷺ sangat Mencintai Khadijah?

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 11 – Larangan Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 11 – Larangan Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah

Read More

Tanggapan Tentang Pembakaran Bendera Bertuliskan Tauhid (Video)

NASIHAT

Tanggapan Tentang Pembakaran Bendera Bertuliskan Tauhid (Video)

Read More

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 7 – Syirik Memakai Gelang Jimat Untuk Menangkal Bencana

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 7 – Syirik Memakai Gelang Jimat Untuk Menangkal Bencana

Read More

Komentar Pembaca

ARTIKEL PILIHAN

Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan

VIDEO

Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan

Saudi Negeri Wahhabi

VIDEO

Saudi Negeri Wahhabi

Kajian Siroh Bagian 7 (2/2) : Faedah Disusuinya Nabi Diperkampungan

VIDEO

Kajian Siroh Bagian 7 (2/2) : Faedah Disusuinya Nabi Diperkampungan

Kajian Siroh Bagian 7 (1/2) : Kisah Ketika Nabi

VIDEO

Kajian Siroh Bagian 7 (1/2) : Kisah Ketika Nabi

RECENT WITH THUMB

Antara  Ust. Abdul Somad, MA., Mu’tazilah, &  Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)

BANTAHAN

Antara Ust. Abdul Somad, MA., Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)

Menyambung Kembali Yang Telah Putus….Memilin Kembali Yang Telah Terurai

LAIN-LAIN

Menyambung Kembali Yang Telah Putus….Memilin Kembali Yang Telah Terurai

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 3 – Memurnikan Tauhid Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 3 – Memurnikan Tauhid Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 4 – TAKUT KEPADA SYIRIK

AQIDAH

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 4 – TAKUT KEPADA SYIRIK

Site Logo

Tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridlo Ilahi

Dapatkan update artikel dengan berlangganan disini

© 2018 Firanda.com. All rights reserved. Support Yufid.com